Home / Berita / Tiga Capres Riil Versi LSI
Tiga Capres Riil Versi LSI

Tiga Capres Riil Versi LSI

Jakarta, PEMILU.com – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terbaru merilis tiga capres riil yang akan berlaga dalam pemilu 2014 mendatang. Dijelaskan peneliti LSI, Adjie Alfaraby mengatakan, meskipun saat ini begitu banyak nama yang bermunculan sebagai calon presiden, namun pada akhirnya mengerucut kepada tiga atau dua calon presiden yang riil. Sedangkan, lainnya hanya sebagai penggembira.

Apalagi, kata Adjie berdasarkan pengalaman pemilu 2004 dan 2009, orang yang menjadi capres selalu pemimpin struktural partai atau ketua umum partai, capres riil didukung oleh koalisi partai yang minimal mendapat 25 persen suara pemilu nasional atau 20 persen kursi di parlemen, dan capres riil didukung sepenuhnya oleh partai.

“Nanti hanya terdapat tiga pasangan capres riil saja,” katanya di Jakarta, Ahad, (20/10).

Nama-nama yang paling mungkin maju menjadi capres riil ini, terang Adjie, antara lain Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP, Aburizal Bakrie (Ical), Ketua Umum Golkar, dan Dahlan Iskan yang diprediksi akan memenangkan konvensi Partai Demokrat.

Berdasarkan hasil survei LSI yang dilakukan pada 12 September-5 Oktober di 33 provinsi itu menyebutkan, elektabilitas tiga partai besar yang kemungkinan memenangkan pemilu dan bisa mengusung capresnya sendiri antara lain, Golkar dengan elektabilitas 20,4 persen, PDIP 18,7 persen, Partai Demokrat 9,8 persen. Tiga partai ini memiliki peluang paling besar memperoleh suara.

Kalau melihat dari hasil survei tersebut, ujar Adjie, Demokrat juga belum tentu bisa mengusung capresnya sendiri. Sebab jika tidak memperoleh 25 persen suara pemilu nasional, maka Demokrat harus berkoalisi dengan partai lainnya.

One comment

  1. Saat ini (di akhir zaman?) banyak orang mendustakan ilmu moral & agama, bahkan terus lupadiri memasuki ranah politik dengan alasan subhat & taklid, maka perangkap bid`ah akan menutupi kesadaran hati iman & ilmunya, mencari-cari alasan guna pembenaran kemaksiatan terselubungnya; insan seperti inilah yang dimaksud lebih buruk dari binatang tak berakal. Mereka hidup penuh dengan kepalsuan, menghalalkan suap mark up korupsi koncois-nepotisme segala cara “aji mumpung potong kompas” menaruh duri dalam daging “menggunting dalam lipatan”. Tapi betapapun sulit masa pencarian pemilih cerdas rakyat sejati yang ikhlas, kita harus maju & optimis husnuludzon bahwa masih banyak rakyat yang akan memilih jalan perubahan menuju haraPAN yang lebih baik dibalik kepahitan terlantarnya aspirasi & nasib pada periode lalu.
    Kita tak boleh pasrah pada keadaan pada resesi krisis tokoh & figur panutan, karena perbaikan & pembaruan justru kini menjadi penting. Jika alasan rantai kehidupan yang diselimuti tanah air api & udara, maka rantai politik diselimuti oleh salahasatu alasan yaitu tendensi (keinginan/kebutuhan).
    Saat ini politik praktis telah menjamur disegala lini merembes unsur pns & guru. Mungkin tidak semuanya berkutat dengan politik praktis, tapi (mungkin) dengan masih adanya segment abdi negara yang professional & legowo maka partisipan politik sedapat mungkin menarik simpati bergandeng tangan sepakat bekerjasama membangun bangsa negara & masyarakat demi mewujudkan kesejahteraan umum serta mencerdaskan kehidupan bangsa yang adil & beradab. Konsentrasi tugas abdi negara adalah pelayanan public, pendidikan & kesehatan serta public services. Perbaikan system penataan birokrasi & kepegawaian bertumpu pada tujuan pelayanan public yang singkat & mudah sehingga kebutuhan masyarakat oleh aparat pemerintah sebagai kewajibannya karena biaya hidupnya berasal dari uang rakyat.
    Jawaban mutlak untuk meluruskan kembali bias politik praktis pada jalur pns & birokrasi adalah penerapan juklak prinsip profesionalisme & variable increase bagi penempatan alokasi personal pejabat yang menakhodai bidang & institusi melalui uji kompetensi sesuai standar aturan yang dibentuk bersama pemerintah & diawasi wakil rakyat. Setidaknya langkah pengembalian keluhuran guru sebagai pahlawan tanda jasa & atau aparat pengayom yang berwibawa – akan menjadi pilar sektor formal yang meneladani sektor lain khususnya pranata masyarakat tradisional yang kini kian krisis figur panutan.
    Pada segment kehidupan wirausaha, petani, nelayan, meubel, tukang, buruh dll yang notabene merupakan mayoritas lapisan masyarakat banyak hal yang perlu dibenahi. Diperlukan kreativitas usulan disertai pengawasan & evaluasi program pembangunan tiap bidang melalui kedinasan kantor instansi pemerintah daerah & provinsi maupun program langsung pusat melalui alokasi khusus umum & subsidi sektoral dsb. Begitu banyak program pembangunan yang ditujukan kepada rakyat namun tidak mengenai sasaran karena ketidakpastian prosedur pengajuan serta pencairan yang terbelit-belit. Begitu riskannya perkembangan peradaban perikehidupan yang kini dalam masa transisi. Ketimpangan pendapatan & ketidakmerataan kesejahteraan adalah bukti bertumbuhnya sifat materialism & individualism. Kita harus mendobrak demi meneruskan aspirasi rakyat agar umum mendapatkan akses informasi program pembangunan yang menjadi hak konstitusionalnya, sebab bumi tanah air & segala kekayaan sumberdaya terkandung didalamnya harus dimanfaatkan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat. Kader PAN yang mengemban amanat wakil rakyat &/ pejabat -harus memperjuangkan amanat pada yang berhak menerimanya tanpa tendensi kehendak tertentu. Kader PAN harus mendasari hidupnya dengan falsafah amar makruf nahi munkar dengan hakikat ilmu & iman, berguru dari pengalaman & belajar dari keadaan yang sudah terjadi mengingatkan rakyat agar tidak salah pilih wakilnya.

    Ukuran indonesia yang kini carut marut memang membutuhkan seorang negarawan seperti Pak Hatta Rajasa. Beliau lain dari yang lain yang hanya asbun sok reformis bela rakyat padahal dibesarkan dari masa lalu konglomerasi penjahat reformasi pembantai idealisme mahasiswa. Justru media kini semakin taklid, lupa sejarah lupa orde kemarin. Kita membutuhkan negarawan teknokrat islam nasionalis ekonom handal; sosok Pak Hatta Rajasa is the best for RI 1....... biarkan survey berkata lain karena lembaga & media sekalipun kini terlalu fobia memenuhi "hasil pesanan" si object survey.... pencitraan nihil menganulir faktor ideologi partai kelak akan meluluh lantahkan NKRI.... Mari kita kembali mundur tiga langkah untuk menempatkan akhlak bobot keturunan hasil kerja bukti prestasi, bukan NATO (not action talk only) seperti contoh kecil dedengkot media yang tak memahami falsafah & ideologi ketatanegaraan akhirnya mencitrakan kamuflase performa "Mengaku Nasionalis padahal Chinese".

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>