TERBARU:
Home / Berita / Ahok Hidupkan Isu Primordialisme Dalam Pilkada

Ahok Hidupkan Isu Primordialisme Dalam Pilkada

Jakarta, PEMILU.com – Direktur Eksekutif Lembaga Survey Indikator Burhanudin Muhtadi mengatakan pengutipan ayat suci Alquran oleh Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama, sama saja mengidupkan isu primordialisme dalam memilih pemimpin. Padahal, isu primordialisme tak pernah menjadi isu dominan pada Pilkada dua periode sebelumnya, 2007 dan 2012.

“Terpelesetnya Ahok dalam Al Maidah 51 membuat isu primordialisme yang sebelumnya mengendap jadi muncul ke permukaan,” katanya, Kamis (24/11).

Dalam survey terbaru Indikator ini juga mengukur isu primordialisme yang dilihat dari dua sisi, yakni agama dan etnis. Burhan menyatakan dari survei yang dilakukan, faktor agama masih berdampak besar pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Jakarta secara agama tidak heterogen karena 85 persen beragama Islam. Tidak ada yang bisa menang tanpa memenangkan hati pemilih muslim,” kata Burhan.

Namun, lanjut Burhan, demografi penduduk Jakarta yang heterogen hanya terjadi di sisi etnis karena tidak ada suku dominan di Jakarta. Dari data yang dimilikinya, Burhan menyebut komposisi penduduk Jakarta berdasarkan etnis terdiri dari 36 persen Jawa, 28 persen Betawi, 15 persen Sunda, dan sisanya terdiri dari suku-suku lainnya.

Tidak adanya etnis dominan disebut Burhan membuat warga Jakarta tidak pernah menjadikan unsur etnis sebagai alasan untuk memilih. “Warga Jakarta lebih toleran untuk masalah etnis,” ujar Burhan.

Hasil survei terbaru yang digelar lembaga survei Indikator menempatkan calon gubernur dan calon wakil gubernur nomor satu, Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, pada urutan pertama. Elektabilitas Agus-Sylvi disebut sudah berada di angka 30,4 persen saat ini.

Agus-Sylvi disebut mengungguli pasangan nomor dua, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, yang eletabilitasnya 26,2 persen. Sementara itu, pasangan nomor tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, disebut memiliki elektabilitas 24,5 persen.

Meski elektabilitas Ahok mengalami tren penurunan, Burhan menyebut mayoritas warga Ibu Kota merasa puas terhadap kinerja pemerintahan Ahok dalam berbagai bidang. “Ini jadi bukti warga Jakarta terbelah antara hati dan pikiranya. Mereka mengakui kinerja Ahok, tapi mereka sulit menerima Ahok,” tukas Burhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*