NasDem Kuasai Bengkulu Dan Sumut

0
66

Jakarta, PEMILU.com – Berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, muncul wajah-wajah baru menuju parlemen mengalahkan caleg petahana. Di Bengkulu misalnya, tiga caleg petahana dipastikan tidak lagi melenggang ke DPR, antara lain Rully Chairul Azwar (Golkar), Dian Syakroza (Demokrat) dan Syahfan Budi Sampurno (PKS).

Sementara, Sekertaris Jenderal (Sekjen) Partai NasDem Rio Capella yang memperoleh dukungan suara sebanyak 83.781 dipastikan mendapatkan satu kursi di parleman. Di Bumi Rafflesia itu juga, partai pimpinan Surya Paloh unggul.

Keunggulan Rio dan Partai NasDem mengubah peta politik di Bengkulu. Sebelumnya parpol-parpol lama seperti Golkar, Demokrat dan PKS selalu menguasai perolehan suara di Bengkulu.

Sedangkan di Sumatera Utara, putra Surya Paloh, Prananda Surya Paloh mengalahkan caleg petahana seperti Tifatul Sembiring (PKS) dan  Hasrul Azwar (PPP). “Tidak ada persiapan khusus untuk mengalahkan caleg petahana, tapi saya sebagai caleg baru memiliki kelebihan sendiri karena lebih bersih dari korupsi,dan menawarkan politik yang lebih segar  karena energi dan semangat muda yang ditawarkan oleh saya mudah diterima oleh masyarakat dibandingkan dengan caleg-caleg lama,” ujarnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Pemilu.com, di Jakarta, Rabu (30/4).

Dikatakan Prananda, perolehan suara NasDem di Sumatera Utara tidak memalukan. Menurutnya untuk ukuran partai baru patut diapresiasi karena mencapai 50 persen atau dari target 6 kursi, NasDem mendapatkan 3.

“Dengan tidak terpilihnya caleg petahana, itu berarti masyarakat kini telah memiliki kesadaran politik yang sangat tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dan masyarakat benar-benar menginginkan adanya perubahan, dan itu hanya bisa dilakukan oleh caleg dan partai baru yang terbuti tidak pernah melakukan korupsi” jelasnya.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro mengatakan, banyaknya caleg petahana yang gagal dalam putaran pileg 2014 karena masyarakat telah menilai mereka sebagai caleg yang tidak layak untuk dipilih. “Banyaknya kasus korupsi yang melibatkan caleg-caleg muka lama, membuat masyarakat malas untuk memilih mereka, karena masyarakat meyakini para caleg tersebut pasti tidak akan berubah,” ujarnya.

Selain itu, ada factor lain yang menyebabkan caleg petahana gagal adalah kinerja mereka sebagai anggota dewan sangat buruk. “Kita lihat saja berapa banyak peraturan perundang-undangan yang bisa dihasilkan oleh anggota dewan yang lama, tidak banyak. Akibat buruknya kinerja caleg petahana, masyarakat justru mengharapkan adanya pendatang baru yang bisa memberikan perubahan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here