Tingkat Partisipasi Pilpres 2014 Bergantung Pada Kinerja KPU

1
34

Jakarta, PEMILU.com – Tingkat partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 sangat bergantung kepada kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU). Apabila KPU tidak maksimal dalam 12 hari ke depan jelang hari coblosan 9 Juli maka ancaman golongan putih (golput) membesar. Dalam hasil survei yang dilakukan Founding Fathers House (FFH) diketahui, 78,6 persen publik menyatakan akan menggunakan hak pilih. 1,4 persen tidak akan menggunakan hak pilih dan 20 persen menyatakan tidak tahu.

“FFH khawatir, angka 20 persen ini akan lari pada golongan yang tidak akan menggunakan hak pilih. Jika hal itu terjadi maka akan membahayakan kualitas pemilu. Hal ini harus diantisipasi KPU. Mumpung masih ada waktu untuk sosialisasi,“ ujar Peneliti Senior FFH Dian Permata dalam diskusi dan paparan hasil penelitian: Pengetahuan Pemilih Tentang Pilpres 2014: Bagaimana Kualitas Demokrasi Indonesia?” di Jakarta, Kamis (26/6/2014).

Dijelaskan alumnus University Sains Malaysia (USM) itu, ancaman potensi golput tersebar di Papua, Jawa Timur, DKI Jakarta, Banten, Lampung, Kepulauan Riau, dan Riau. Sedangkan pemilih yang tidak tahu apakah akan menggunakan hak politiknya atau tidak pada 9 Juli, tersebar merata di seluruh provinsi kecuali DIY. Di segmentasi usia, ancaman golput tersebar di usia 16-19, 20-24, 30-34, 40-44, dan 50-54. Sedangkan pemilih yang tidak tahu apakah akan menggunakan politiknya atau tidak, tersebar merata di semua segmen, kecuali 65 tahun ke atas.

“Dari kedua segmen provinsi dan umur itu maka akan memudahkan KPU. Ke mana dan pesan apa yang harus disampaikan. Tidak itu saja, KPU juga harus mencari tehnik-tehnik segar untuk merangsang para pemilih mau menggunakan hak pilihnya seperti menggunakan bahasa lokal di masing-masing provinsi atau daerah.” Katanya.

Dilanjutkan Dian, 98.3 persen pemilih sudah mengetahui sebentar lagi akan diadakan pemilihan presiden dan wakil presiden. Angka ini naik apabila dibandingkan pada penelitian April Mei 2014, yakni 91 persen. Kenaikan signifikan juga terjadi pada pengetahuan pemilih tentang kapan tepatnya pelaksanaan Pilpres 2014. Pada April Mei, hanya 2.2 persen pemilih yang tahu bahwa 9 Juli adalah hari coblosan Pilpres 2014. Sedangkan pada Mei Juni menjadi 85.2 persen.

Selain itu, sebanyak 96 persen responden dapat mengatakan dengan tepat bahwa Joko Widodo dan Jusuf Kalla adalah pasangan nomor urut dua pada Pilpres 2014. Sedangkan 95.1 persen responden dapat mengatakan dengan tepat bahwa Prabowo Subianto-Hatta Rajasa adalah pasangan nomor urut satu pada Pilpres 2014. “Tingginya pengetahuan responden ini memang tidak bisa dilepaskan dari jumlah peserta yang hanya diikuti Prabowo Subianto dengan Hatta Rajasa dan Joko Widodo dengan Jusuf Kalla.” tuturnya.

Survei dilaksanakan 19 Mei hingga 22 Juni 2014 di 34 provinsi. Jumlah responden 1.090 orang yang sudah memiliki hak pilih pada Pilpres 2014. Adapun tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Margin of error ± 2,97 %.

1 COMMENT

  1. Saya mohon, sebelum membaca dibawah ini! Tinggalkan perasaan bahwa kita lebih hebat dan benar. Tapi bacalah dgn ketulusan hati, karena saya menulisnyapun dgn ketulusun hati.
    Tarik nafas dalam2 dan buang perlahan2 sebanyak 3 X!
    Perhatian!!!
    Negara Indonesia sedang dijajah pada Perekonomian oleh bangsa Asing melalui pengusaha2 Asing ataupun keturunan Asing yg sudah menjadi WNI sbg identitas agar mereka dgn mudah mengembangkan usaha di Negeri ini tapi keuntungannya dilarikan keNegara asal mereka utk membangun Negaranya. Sedangkan Indonesia sendiri sibuk membayar hutang yg sengaja mereka berikan sbg investasi atau pinjaman negara. Negara ini utk membayar hutang2 tsb hanya dapat mengambil dari pajak yg kian tahun kian besar hingga terasa mencekik leher Rakyatnya sendiri. Jika Indonesia dapat mengolah hasil alam yg sangat banyak ini dan mengolahnya didalam Negeri kemudian menjual keLuar Negeri, maka keuntungan dpt berlipat ganda dan tidak perlu menaikkan pajak yg begitu tinggi, coba mari kita renungkan bersama. Dulu hasil pangan kita berswasembada, dulu Indonesia adalah Negara yg ditakuti oleh Negara lain. Tapi kini ada apa? Kita cermati dan pelajari apa tujuan para calon pemimpin dan siapa dibelakangnya tsb. Dan dampak apa kira2 bila kita memilihnya. Kalau cuma mengandalkan investor2 dari Luar Negeri, maka yg terjadi kita hanya dapat menggantungkan pembangunan Negeri dari mereka, sedangkan utk pelunasan hutang2 tsb tidak akan pernah mampu dan kita takkan pernah bisa menjadi Negara yg Mandiri. Hingga yg ada hanyalah perasaan hutang budi pada mereka dan kita terpaksa menuruti apa yg mereka inginkan. Tidak mustahil dikemudian hari kita menyerahkan negara tercinta ini pada mereka. Kita menjadi budak mereka. Apakah ini yg kita inginkan? Tidak sadarkah memilih suatu pemimpin Negara ini telah dicampurtangan oleh Negara lain? Mereka tidak akan rela negara kita maju dan memiliki pemimpin yg kuat,cerdas, pemberani. Sadarkah kita? Mengapa kita masih percaya pada ramalan2 agama serta kepercayaan lain? Sedangkan itu adalah trik yg telah jauh2 waktu mereka persiapkan utk mempengaruhi iman serta kepercayaan kita. Istigfarlah!!!!! Karena bila kita percaya ramalan2 yg telah mereka buat itu adalah suatu kemusyrikan kepada Tuhan kita. Sadarlah!!!! Jangan tolak kata hatimu, bangkitlah, dan segeralah kita berbenah sebelum semua terlanjur. Semakin lama kita terlena, semakin jauh dan Dalam pula kita semakin hancur. Bacalah kejadian dunia ini sesuai yg diajarkan Rosulmu serta sesuai petunjuk Agama melalui Kitabmu.
    “Agar kita tidak salah memilih seorang pemimpin Negeri Tercinta ini, demi kemajuan dan kesejahteraan Rakyat serta bangsa Indonesia”
    Semoga bermakna…. Terima kasih.
    Salam Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here