Partai Golkar Ajak Bernostalgia Masa Kejayaan Soeharto

0
56

Jakarta, PEMILU.com – Tak ingin terlempar dari kekuasaan, Partai Golkar meluncurkan strategi mengingat kembali jejak Soeharto membangun Indonesia.

Tak ragu mereka menyebut, rakyat Indonesia merindukan kader Partai Golkar kembali memimpin negeri ini. Pasalnya, sejarah mencatat peran penting kader Golkar sebagai pemimpin mampu membawa Indonesia masuk jajaran salah satu negara penghasil dan pengekspor minyak terbesar di dunia.

“Setelah melihat kondisi akhir-akhir ini, rakyat akan semakin merindukan kepemimpinan Partai Golkar. Karena terbukti mampu membawa Indonesia melewati krisis energi seperti saat ini,” ujar anggota Fraksi Partai Golkar Harry Azhar Azis, di Jakarta, Senin (24/2).

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI itu, hingga saat ini PT Pertamina memiliki 6 unit kilang minyak dengan kapasitas 1,05 juta barel per hari (bph). Namun realitanya, produksi keenam unit kilang itu hanya mencapai 700.000–800.000 bph. Padahal konsumsi BBM Indonesia saat ini mencapai angka 1,5 juta–1,6 juta bph.

Padahal, kata Harry, pada masa pemerintahan Soeharto periode 1966-1998, rata-rata produksi minyak mencapai 1,38 juta bph. Lalu pada tahun 1960, Indonesia masuk menjadi anggota negara-negara pengekspor minyak terbesar di dunia (OPEC).

Bahkan, lanjut dia, sebagian besar pembangunan nasional dibiayai dari keuntungan minyak Indonesia. Sebab, sumbangan minyak dan gas (migas) terhadap pendapatan negara diatas 50%. Dan pada tahun 1980-an kontribusi minyak mencapai angka diatas 70%.

Lebih jauh, Harry menjelaskan, era pemerintahan Soeharto juga membangun kilang minyak Balongan, yang kini menjadi kilang minyak terakhir yang dibangun pemerintah. Meski Kilang Balongan awalnya ditujukan untuk menyediakan bahan baku bagi Perusahaan Listrik Negara (PLN), namun secara jangka panjang pemerintahan Soeharto mampu melihat peluang dan tantangan jauh di depan.

“Bayangkan, jika saat itu Presiden Soeharto tidak membangun Kilang Balongan, maka sekarang mau seberapa besar lagi biaya impor minyak Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa Pak Harto lebih punya visi misi dalam membangun bangsa dibanding pemerintah saat ini. Jadi tidak keliru bila rakyat saat ini kangen dengan jaman Pak Harto yang mana Golkar saat itu memimpin pemerintahan,” beber dia.

Menurut Harry, paskalengsernya pemerintahan Soeharto, Indonesia harus memikirkan langkah-langkah antisipasi terkait ketercukupan kebutuhan minyak. Sebab,  tingkat konsumsi minyak dalam negeri saat itu belum begitu besar. Secara rata-rata hanya sekitar 469 ribu bph, atau hanya sepertiga atau sekitar 34% dari total produksi. Sehingga, pemerintah pun memberikan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik.

Realitanya, sambung Harry, Indonesia kini justru mengimpor minyak dari Singapura yang memiliki produksi minyak 1,3 juta bph. Berdasarkan data Kementerian ESDM, Harry mengatakan bahwa stok minyak mentah Indonesia hanya cukup untuk 4 hari. Sementara, stok operasional tersisa untuk 21 hari.

Bahkan meski stok minyak Indonesia semakin menipis, pemerintah sama sekali tidak bergerak untuk membangun kilang-kilang baru sebagai langkah antisipasi. Hal itu terlihat dari penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pembangunan kilang di Indonesia, antara pemerintah dengan negara lain ataupun perusahaan asing. Diantaranya, adalah Jepang, Iran, Saudi Arabia dan Kuwait. Namun hingga kini, tidak satupun yang dieksekusi pemerintah.

“Artinya pemerintahan saat ini tidak memiliki visi jangka panjang. Cuma sekedar pencitraan belaka, tanpa memikirkan masa depan bangsa Indonesia yang besar ini”, tutup Harry.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here